Archive for November, 2007
22 November, 2007 | No comments
Untitled (The Hobo Never Sleep Tonight) by Anugerah Pratama aka Egga

Untitled (The Hobo Never Sleep Tonight)
Anugerah Pratama aka Egga
Digital Print on Canvas
60 cm x 120 cm
2006
Among his friends in Bandung, Anugerah Pratama aka Egga is known as designer, DJ and experimental musician. Most of his graphic works appears in the form of t-shirts, flyers, posters, etc. He often uses simple vector graphic icon, found images, cut and paste technique; playing with humor, irony and childhood object. In The Hobo Never Sleep Tonight, Egga shows a playful image of four legs black bird with a jewel crown, including his collection of graphic text & icons in the background. This in return, creates an enigmatic - almost like mockery icon - that questioning authority & our stereotype perception about particular sign/symbols.
(From www.projektheterologia.wordpress.com)
Top
22 November, 2007 | No comments
Strategi Baru Label Rekaman “Membunuh” Artis-Artisnya
Oleh http://wenzrawk.multiply.com/
Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.
Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.
Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).
Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih “belajar” maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label
Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.
Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.
Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.
Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.
Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:
- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
- Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan “pembusukan”. Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.
- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita ![]()
- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It’s a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!
- Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo’on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari “kuli musikal.”
Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.
Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).
Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.
Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming “fame & fortune” di industri musik. Padahal belum tentu bakal “booming” juga
Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.
Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!
Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi “popularitas maksimal dua atau tiga album saja!” Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.
Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band!
Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan “easy come, easy go!”
Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It’s not the end of the world as we know it
Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.
Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.
Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai “label rekaman”. Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya….. dan mereka cukup berhasil! Salute!
Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar!
Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.
Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.
Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:
Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.
Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.
Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall
Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.
Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.
Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!
Hope we could make real changes together.
For better, not worst….
Vive le rawk!
** Ikuti diskusi mengenai topik ini di halaman berikut.
Top
20 November, 2007 | No comments
Workshop Capo di Common Room

Gilang Anom M. Manik (9 tahun), sedang memodifikasi Capo sambil ditemani oleh teman-teman dari AEWORX. Pada hari Minggu tanggal 18 November 2007, tim desain AEWORX dari NLS menyelenggarakan workshop Capo yang diikuti oleh kurang lebih 14 orang peserta di Common Room. Workshop dimulai sejak jam 11 siang dan berakhir pada pukul 18.00 sore. Meskipun ada beberapa peserta yang terlambat datang, secara keseluruhan workshop berjalan secara menyenangkan.
Acara diawali dengan presentasi dari tim AEWORX dan beberapa peserta pameran Capo semisal Radi Arwinda, Dewi Aditya, Marina Tasya, Ryoichi Adiwaluyo, Cindaga, dsb. Masing-masing peserta pameran saling berbagi pengalaman dan informasi mengenai teknik memodifikasi Capo sambil berbincang secara langsung dengan para peserta workshop. Setelah selesai melakukan sesi tanya jawab, para peserta workshop kemudian mulai merancang Capo sesuai dengan keinginan dan minat mereka masing-masing. Selanjutnya para peserta workshop mulai memodifikasi Capo sambil dipandu oleh teman-teman dari AEWORX.
Beberapa peserta yang terlibat di dalam kegiatan ini antara lain adalah Andi, Gilang, Gorky, Lucy, Dika, Evan D., Atinna, Yudi, Aditya, Kadek, Deri, Asep Wahyu, Fuad dan Rami. Rencananya karya-karya hasil workshop ini akan ikut dipamerkan dalam seri pameran Capo selanjutnya. Terimakasih untuk teman-teman yang telah terlibat dan ikut membantu pelaksanaan kegiatan ini. Foto-foto suasana workshop bisa dilihat di capotoys.multiply.com.
Top
12 November, 2007 | 16 comments
Review Launching Buku My Self: Scumbag Beyond Life and Death by Kimung (Minorbooks, 2007)

Akhirnya buku My Self: Scumbag Beyond Life and Death dirilis! Peristiwa penting ini disaksikan oleh para kerabat dekat Ivan Scumbag, gerombolan Ujungberung Rebels/ Homelesss Crew dan para Begundal Burgerkill di Common Room pada tanggal 11 November 2007. Setelah bekerja keras selama kurang lebih satu setengah tahun, Kimung berhasil menyelesaikan buku yang menceritakan kisah hidup Ivan sahabatnya. Sama-sama besar di jalanan Ujungberung, duet maut Kimung-Ivan selama ini dikenal sebagai pendiri yang ikut membesarkan Burgerkill, sebuah band cadas legendaris dari Ujungberung. Kolaborasi mereka berdua sempat terhenti ketika Kimung keluar dari Burgerkill pada tahun 2000.
Persahabatan mereka terus berjalan seiring dengan waktu. Kedua sahabat ini menjalankan hidup mereka bersama-sama sampai akhirnya Ivan meninggal dunia karena sakit parah. Dikelilingi oleh para sahabat dekatnya, Ivan meninggalkan Kimung dan kawanan Ujungberung Rebels/ Homelesss Crew, termasuk kelompok musik Burgerkill pada pertengahan tahun 2006. Melalui buku yang ditulis Kimung, kisah hidup Ivan dicurahkan ke dalam kisah yang begitu intim. Kisah yang begitu dekat dengan keseharian kita. Terutama bagi mereka yang lahir dan besar di pinggiran kota besar, khususnya Ujungberung - Bandung. Ada banyak kisah yang begitu lugu dan jujur, diantara banyak tekanan, konflik dan kegembiraan yang berujung pada kegetiran hidup seorang Ivan.
Dipandu oleh Une sebagai MC, acara peluncuran buku dihadiri oleh ratusan sahabat dekat Kimung dan Ivan. Selain para personil Burgerkill, terlihat para Begundal dan gerombolan Ujungberung Rebels/ Homelesss Crew. Dalam acara tersebut, secara bergantian Kimung, Ojel dan Papap menjelaskan secara panjang lebar proses penulisan buku, mulai dari proses penelitian, penulisan, penyuntingan sampai dengan cetak. Beberapa rekan Ivan dari Ujungberung ikut berbagi cerita mengenai Ivan. Beberapa diantaranya adalah Adi Gembel (Forgotten), para personil Burgerkill, Dadan Ketu, Irvine, Jimbo, dll. Diantara jeda acara, Burgerkill membawakan lagu Tiga Titik Hitam dan Angkuh dalam format akustik. Sore itu semua terasa hampir sempurna. Sayang Ivan sudah tidak ada.
** Berita terkait bisa dibaca di lembar Kampus Pikiran Rakyat. Foto dokumentasi kegiatan bisa dilihat di deniborin.multiply.com dan Heterologia. Review terbaru bisa dibaca di www.deathrockstar.info.
Top
« Next entries











