Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • koesuma 10:42 am on September 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Jadwal Pelatihan Jurnalistik 

    Jadwal Kegiatan Pelatihan Jurnalistik SMU Se-Bandung

    Sabtu, 23 Sept 2006
    Pk. 14.00-15.30 Dasar-dasar jurnalistik:
    - Pengenalan Media
    - Pengenalan Kerja Jurnalistik
    - Pengenalan Jenis-jenis Tulisan di Media
    Diskusi
    15.30-16.00 Istirahat
    16.00-17.30 Teknik Reportase + Diskusi
    17.30-18.00 Penugasan & Pembagian Kelompok

    Minggu, 24 Sept 2006
    09.00-12.00 Pengerjaan Tugas
    12.00-13.00 Istirahat
    13.00-15.00 Pembahasan Tugas
    15.00-15.30 Penugasan dari Belia

    Sabtu, 30 Sept 2006
    15.00-17.30 Pengenalan Blog
    17.30-18.00 Pengumpulan Tugas

    Minggu, 01 Okt 2006
    10.00-12.00 Evaluasi Tugas
    12.00-13.00 Istirahat
    13.00-15.00 Perbaikan
    15.00-16.00 Penutupan

     
    • annie 12:53 am on December 12, 2009 Permalink

      Terima kasih sudah menulis ini. Saya mohon izin untuk copy sebagai bahan pertimbangan penerapan jadwal di sekolah yaaa. Jazakallah

  • koesuma 10:42 am on September 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: , , ,   

    Workshop Jurnalisme Lingkungan 

    tulisan ini juga dimuat di blog: http://www.kabarbandung.blogspot.com

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung
    Common Room Networks, Bandung 2 September 2006

    Peserta: Tarlen, Mahdi, Mulyani, Agus Rakasiwi, Yunus, Daus, Ari, Asep, Rani (ICEL), Dhanny (Hivos), Riri (Walhi Jawa Barat).

    Acara kali ini akhirnya benar-benar menjadi sarana berbagi pandangan mengenai jurnalisme lingkungan, baik konsep maupun praktek. Kemudian muncul beberapa hal masalah utama reportase lingkungan. Mulai dari posisi jurnalis yang hanya memaparkan fakta dengan prosedur kerja jurnalistik saja atau harus terus mengadvokasinya. Kemudian masalah pengetahuan, narasumber serta strategi agar dapat ruang di halaman media.

    Hutan Kemasyarakatan

    Ekosistem hutan menyediakan sistem pendukung kehidupan bagi manusia, satwa, dan tanaman. Masyarakat setempat menjadi pemeran utama untuk menciptakan sinergi di antara manusia dengan lingkungan alaminya. Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat, para profesional, serta swasta memahami keperluan yang mendesak untuk melindungi hutan yang masih tersisa dan mengelolanya dengan lebih baik.

    Hutan kemasyarakatan merupakan suatu sistem pengelolaan hutan secara komprehensif oleh masyarakat setempat guna meningkatkan kesejahteraannya dengan sekaligus melestarikan hutan pada jangka panjang. Tujuannya adalah meningkatkan keekonomian masyarakat setempat serta mempercepat pemulihan hutan. Strateginya melalui pengelolaan dan usaha hutan secara komprehensif, serta menciptakan lembaga kerjasama di antara masyarakat, swasta, dan pemerintah.

    Hutan Indonesia mengahadapi masalah yang rumit, terutama sejak krisis ekonomi tahun 1997/1998. Selama reformasi politik dan kebijakan, peraturan yang ada dan penegakan hukum belum cukup untuk mampu menangani masalah perhutanan serta masalah sosial lainnya. Sektor kehutanan telah terkena dampak yang buruk, karena aset hutan di lapangan dianggap oleh pihak tertentu sebagai aset yang dapat diakses dengan leluasa. Pemerintah telah mengumumkan jangka waktu selama 10 hingga 20 tahun untuk pemulihan hutan dan masa konservasi. Semua upaya tersebut dimaksudkan untuk mengurangi penyalahgunaan sumber daya hutan, dengan tetap memperhatikan tujuan bersama pembangunan sosial, penciptaan penghasilan, dan pelayanan lingkungan hidup. Upaya tersebut harus bermanfaat bagi pihak yang bergantung pada sumber daya hutan, termasuk masyarakat setempat.

    Fokus hutan kemasyarakatan adalah masyarakat yang bergantung pada hutan, yang tinggal pada atau berdekatan dengan hutan. Hutan bukan sekadar tegakan kayu, melainkan suatu sistem pengelolaan kawasan yang terdiri dari berbagai elemen, diantaranya hutan alam, hutan sekunder, sungai, danau, kebun, ladang, permukiman, hutan keramat, dan banyak lagi yang tergantung komunitas dan sistem ekologinya.

    Prinsip-prinsip hutan kemasyarakatan antaralain:
    - Masyarakat sebagai pengelolanya
    - Terdapat lahan yang memiliki kepastian hukum.
    - Aspek ekonomi, sosial dan ekologi menjadi perhatian utama Hutan kemasyarakatan tidak mengarah hanya pada kayu, namun lebih mengutamakan pengembangan hasil hutan non kayu.

    Reportase lingkungan bukan sekadar melaporkan

    Dalam sesi pembahasan posisi jurnalis yang melaporkan topik lingkungan muncul satu pertanyaan besar. Apakah jurnalis harus ikut mengadvokasi? Pertanyaan itu muncul setelah membahas perlu perjuangan keras dalam membuat reportase lingkungan. Mulai dari menguasai masalah teknis, kebijakan, menyajikannya menjadi sebuah reportase memikat serta harus berguna. Muncul dua pandangan, pertama jurnalis hanya sebatas mengungkapkan fakta. Kedua, jurnalis ikut mengawal paparan reportasenya hingga dapat berguna secara langsung.

    Tarlen mengungkapkan masalah pemisahan sampah rumah tangga di Bandung. Walikota Bandung pernah membuat instruksi kepada warganya untuk memisahkan sampah basah dengan sampah kering. Setelah beberapa hari menjalankan perintah tersebut, warga kembali kepada perilaku sebelumnya.

    Alasan warga, karena mereka kecewa dengan pemerintah kota Bandung yang tidak memikirkan instruksi itu dengan benar. Truk yang mengangkut sampah itu ternyata menggabungkan sampah yang sudah dipisahkan oleh warga.

    Tarlen mempunyai ide setiap rumah kembali memisahkan sampah. Pembagiannya, untuk petugas kebersihan dan untuk pemulung. Ini ide cerdas dan menarik. Tentu saja selain menulis itu, jurnalis dapat melaksanakan dan mengajak orang lain untuk melakukannya. Dan instruksi walikota itu kita dukung dengan memberi solusi.

    Bagaimana dengan hal besar, seperti masalah tambang atau konflik? Ari yang biasa meliput di Kabupaten Bandung menemukan sebuah penambangan di Gunung Wayang. Secara teknis yang dilakukan penambang tersebut tidak ramah lingkungan. Tapi perusahan tersebut berbagai izinnya telah lengkap. Jika ia membuat laporan hanya memaparkan fakta saja, hasilnya penambangan terus berjalan lingkungan rusak.

    Melalui pembahasan berbagai kasus, sebagian peserta merasa harus menjadi jurnalis yang bukan sekadar melaporkan isu lingkungan saja.

    Menulis Topik Lingkungan yang Memikat

    Ungkapkan dengan sederhana, langsung. Ingat siapa pembaca kita. Jangan menggunakan istilah teknis atau istilah yang hanya dikenal kalangan pegiat lingkungan. Lukislah hal-hal yang akrab bagi pembaca, sehingga mereka membayangkan bisa melihat, menengar, merasa dan menyentuh.

    Pakailah bahasa sederhana. Ganti:
    “kompensasi” dengan “imbalan”; “implementasi” dengan “aksi”. Jangan menutup-nutupi. Jangan pakai kata berbunga. Langsung dan spesifik saja. Bukan “disukabumikan” tapi “dibunuh”. Harga “naik” bukan “disesuaikan”.

    Gunakan kata dan kalimat aktif. “Tidak ingat” ganti dengan “lupa”. “Membunuh” untuk mengganti “dibunuh”. kalimat pasif menghilangkan aktor dari aksi dan membuat tidak menarik.

    Memberi ruh pada tulisan

    Jangan anggap pembaca bodoh. Jangan pikul pembaca dengan kesimpula di awal tulisan. Mulailah dengan apa yang menarik buat mereka, lalau berilah pembaca bukti agar mereka mempercayai apa yang ingin Anda sampaikan.

    Jangan pakai istilah teknis. Terjemahkan bahasa para ahli ke bahasa sederhana. Jangan menulis dengan gaya seorang ahli. Selalu berpikir dua kali sebelu memakai istilah teknis.

    Buatlah paragraf seringkas mungkin, kalimat seringkas mungkin, untuk mencegah pembaca terengah-engah. Jangan mengulang-ulang kata. Cobalah beri variasi tanpa merusak maknanya.

    Kebutuhan jurnalis

    Dalam membuat berita lingkungan, terutama aktivitas warga jurnalis jarang mendapat informasi. Begitu juga dengan penguasaan masalah lingkungam baik topik kehutanan, pencemaran udara maupun limbah sebagain besar jurnalis awam.

    Untuk mengatasi itu, ICEL dan Walhi Jawa Barat hendak terus berbagi. Nyatanya banyak aktivitas pegiat lingkungan yang sangat menarik dan jelas manfaatnya untuk lingkungan. Selain itu, AJI Bandung hendak mengumpulkan daftar narasumber terkait topik lingkungan baik dari aspek kehutanan, kebijakan, ekonomi serta aspek lainnya. Begitu juga dengan berbagai pustaka dan situs internet untuk memudahkan riset.

    Hingga kini ruang media untuk topik lingkungan sangat terbatas. Untuk itu, topik-topik lingkungan akan dibuat dengan mengambil sudut pandang ekonomi, hukum, sosial, perkotaan serta rubrik-rubrik lain yang ada di media masing-masing.

    Agenda Berikutnya

    Semua peserta akan membuat proposal reportase yang akan dibahas melalui satu blog untuk ditanggapi peserta lainnya. Tahap berikutnya peserta membuat reportase sesuai topik pilihannya masing-masing. (asf)

    Bahan bacaan
    Berjihad Melawan Akronim
    Dari Narasi hingga Persuasi
    Info Jawa

     
  • koesuma 10:42 am on September 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Salam Matahari – Pembacaan Cerita & lovely Afternoon Accoustic 

    Kumpulan Cerita-cerita Sundea
    Salam Matahari

    Launching Salam Matahari
    di Common Room – Tobucil
    Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung
    Sabtu, 16 September 2006
    Pk. 15.00 – 18.00

    Featuring:
    Jendela Ide Kids Percussion, Gustaff H. Iskandar, Bambang Sugiharto, Rahmat Jabaril & Komunitas Tabu, Akustik Klab Klasik, No Id, Addy Gembel, Tiara Putri, Syiffra Annisa, Manik Purwakrisna (laluna), Pecandu Pagi, Ucok Homicide, Iit Omuniuum, Sundea

    Pengantar:
    Ini buku abnormal. Ketika banyak orang menulis tentang hal-hal besar dan penting, buku ini bicaraa tentang hal-hal kecil dan tak penting.

    Ketika orang bicara tentang gagasan-gagasan mendalam, buku ini bicara tentang kesan di permukaan. Ketika di sekolah-sekolah, ibu guru ngotot mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar buku ini bicara dengan bahasa santai pergaulan. Ketika bagi orang dewasa cerita anak-anak adalah sesuatu yang kedaluarsa, buku ini seperti bersikukuh mengatakan: persepsi kanak-kanak tak mengenal masa. Ketika banyak peristiwa sepele berlarian lewat tanpa kesan, buku ini menangkapinya dengan penuh perhatian. Ketika orang kebanyakan memandang segala sesuatu dengan inteligensi buku ini mengamati segala hal dengan mata hati dan imajinasi. Ketika orang gemar memasti-mastikan genre atawa kategori suatu karya, bahkan lantas merasa sangat kuasa menentukan kualitas dengan angka, buku ini mengaburkan semuanya. Tak jelas ini buku apa, kudu dinilai bagaimana dan mesti dibaca siapa.

    Ini buku abnormal. Tapi bukankah “normal” kadang berarti sangat stereotip atawa steril, dan karenanya miskin dan kreatif? betapa kerap kita terpenjara bahkan teraniaya oleh “kenormalan”.

    Ini buku tak penting. Tapi bukankah banyak hal yang kita kira penting sebenarnya tak sungguh penting? Betapa kerap kita terkecoh ihwal apa yang sesungguhnya penting.

    Buku ini ganjil, seperti membuka mata hati terhadap kesatuan asasi dalam hal kecil sehari-hari: suatu insting ruhani purba, yang selalu tergoda melihat segala sesuatu sebagai suci dan bernyawa. Sesuatu yang telah lama kita lupa. Kelupaan yang sebenarnya telah melahirkan banyak luka dan bencana. (I. Bambang Sugiharto, Filsuf)

    Quotes:
    Hal sederhana dari keseharian dapat kita hayati dengan indah melalui Salamatahari yang kaya akan imajinasi, ketulusan, dan kemesraan relasi dea dengan alam benda dan semesta.. sebuah bacaan inspiratif bagi tua maupun muda. (Marintan Sirait – Jendela Ide, Lembaga Budaya Anak dan Remaja)

    Tidak pernah terbersit di benak saya untuk menuangkan pikiran-pikiran kecil dari sudut-sudut kepala saya ke dalam cerita mini seperti dea, sehingga dapat dibagi dengan banyak orang. Senang mengetahui anak kecil dalam diri dea masih terus dibebaskan bermain. (Olivia Kristina Sinaga- Penulis Raiu)

    Sekilas Penulis:
    Sundea, nama aslinya Ardea Rhema Sikhar lahir 10 Juni 1981. Dea Berkarya sejak masih cilik. Tahun 1986 pas TK, Dea sudah doyan bikin komik. Sekitar 1988, Dea sering menerima orderan temen-temen SDnya yang numpang dibuatin cerpen-cerpen. Beberapa cerpen Dea kirim ke media dan sempet dimuat di Arena Kecil Majalah Bobo. Pas SD Dea juga sempet meredaksi Majalah Junior di sekolahnya, SD St. Vincentius.

    Masuk SMP Dea makin demen nulis. Dea Kembali meredaksi redaksi majalah sekolahnya, Majalah Vincent. Di SMUnya, Dea juga dipercaya mengurus majalah dinding, Buletin persekutuan Doa SMUK Yahya. Karyanya beberapa kali dimuat dalam majalah kawanku pada era itu.

    Masuk kuliah di sastra Indonesia Universitas Padjajaran tahun 2001 minatnya pada menulis semakin menjadi saja. Tulisan-tulisannya sempet dimuat di Drive Thru Magz dan Joni Gubhrag. Sejak 2003 Dea secara rutin cerita-cerita buat pembaca Minor Bacaan Kecil dalam rubrik Teras Kita. Cerita-ceritanya selalu mini dan simpel. Namun disitulah kekuatan tulisan Sundea.

    Acara ini terselenggara berkat sinergi:
    Minor Books, Tobucil, Pecandu Pagi, Common Room Networks, The Surigid, Minor, BP, Jendela Ide

     
  • koesuma 10:40 am on September 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Seni Bandung Masa Kini 2006 

    ***Pameran akan berlangsung mulai tanggal: 10 s/d 30 September 2006
    Tempat: Common Room/TOBUCIL, Jl. Kyai Gede Utama No. 8, Bandung
    Jam buka: 10.00 pagi s/d 4 sore

    Pameran Seni Bandung Masa Kini 2006 menampilkan beberapa karya para seniman dan ilmuwan Bandung dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, selain juga menampilkan karya-karya dari para seniman manca negara. Selain memamerkan seri karya boneka Barbie milik Tiarma Sirait, pameran ini juga menampilkan beberapa karya gambar, seni lukis, benda-benda, fotografi, video, cetak digital dan robot cerdas yang secara sepintas akan menampilkan kecenderungan perkembangan praktik seni terkini di kota Bandung, maupun beberapa tempat di belahan dunia yang lain. Selain itu, pameran ini juga menampilkan karya robot dari Kelompok Studi Robot Cerdas -UNIKOM, juga karya origami dan kerajinan yang merupakan buah tangan dari aktifitas Klab Origami dan Klab Hobi di Common Room.

    Karya-karya yang ditampilkan merupakan karya pilihan yang sedikit banyak merefleksikan aura nostalgia, sekaligus mimpi absurd mengenai masa depan. Beberapa dari karya yang ada juga mencerminkan berbagai pandangan mengenai persoalan ruang urban yang tersaturisasi oleh pengaruh globalisasi di bidang politik dan ekonomi, selain juga terpengaruh oleh perkembangan di bidang teknologi dan budaya media. Beberapa seniman Indonesia yang terlibat dalam pameran ini merupakan figur-figur yang selama ini juga dikenal aktif berkarya dan berpameran di luar negeri. Malahan, beberapa diantaranya telah mengganti status kewarganegaraan mereka karena selama ini merasa terancam secara ekonomi dan politik, selain beberapa diantaranya juga tengah dikejar oleh kasus hutang-piutang yang gawat di Indonesia maupun di beberapa negara.

    Beberapa seniman eksil yang karyanya ditampilkan di dalam pameran ini antara lain adalah: Tiarma Sirait (Amerika Serikat), R.E. Hartanto (Afrika Selatan), Dewi Aditia (Canada), OQ (Republik Mali), Gustaff H. Iskandar (Zambia), Roumy Handayani Pesona (Tajikistan), Andar Manik (Korea Utara) dan Sir Dandy Original (Pantai Gading). Sementara itu, karya seni video yang ditampilkan dalam pameran ini merupakan karya para seniman yang berasal dari New Zealand, Austria, Denmark, Malaysia, India dan Indonesia. Karya mereka akan diputar secara bergiliran selama pameran berlangsung. Adapun beberapa seniman video yang karyanya ikut ditampilkan adalah: VideoBabes (Indonesia), Cerahati (Indonesia), Muhammad Akbar (Indonesia), Nanna Debois Buhl (Denmark), Tamar Guimares (Denmark), Klaus Ohad Said Auderer (Austria), Nilanjan Bhattacharya (India), Daniel Malone, Sriwhana Spong, Kah Bee Chow, Catherine Garet, Janet Lilo, Stella Brennan, Kirsty Cameron, Nova Paul (New Zealand), Prilla Tania (Indonesia) dan ruangrupa (Indonesia). Selain itu, juga akan diputar kompilasi video `Recurring Spaces’ (dari Displacement Project Bandung- Singapore 2006), yang menampilkan karya dari Banung Grahita; (IKAL) Chairine Stevanny, Fitriani K.D., Annisa S., Fini Kania; Erik M. Pauhrizi; Gembi & Ageng (Pemuda Elektrik); Muhammad Reggie Aquara; OQ Adiredja; Rizaldi Fakhruddin; Tisa Granicia & Budi Adi Nugroho; dan Yusuf Ismail. (gustaff)

    * Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai pameran ini silahkan menghubungi Tobucil (+62.22.2503404) / Ibu Nunung (+62.22.7080620) .

    ** Program penelitian dan pengembangan untuk pelaksanaan pameran ini didukung sepenuhnya oleh Tobucil, Bandung Center for New Media Arts dan Common Room Networks Foundation.

     
  • koesuma 10:40 am on September 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Bandung Video Musik Festival
    Soft Lauching 16-17 September 2006
    AACC & sekitar kawasan Braga

    Prolog
    Perkembangan teknologi yang kian cepat berdampak pada perubahan sikap dan perilaku manusia, begitupun pada proses kreatifitas. Dengan kemajuan teknologi tersebut tentunya banyak hal menjadi mudah. Salah satunya adalah pembuatan film. Sebelum era digital menjadi booming, sedikit orang yang bisa menyalurkan proses kreatifitas dengan medium film. Sebab film dulu secara terminology adalah bentuk rekaman audio visual di atas pita seluloid. Biaya yang sangat mahal dalam pembuatan film ini hanya bisa dikonsumsi oleh orang-orang mapan, hingga nyaris orang biasa secara ekonomi nyaris tidak dapat menyalurkan kreatifitasnya.

    Kini dengan kemajuan teknologi, masyarakat sungguh beruntung dengan adanya produk digital. Biaya pembuatan film yang awalnya sungguh teramat mahal bisa dibantah karena proses perekaman audio visual tidak hanya sebatas menggunakan pita seluloid. Alhasil banyak para penggiat film dari berbagai kalangan mencoba menyalurkan kreatifitasnya dengan bentuk audio visual. Begitu mudahnya mengoperasikan kamera sehingga kitapun dikagetkan dengan beredarnya rekaman film adegan ranjang para mahasiswa bahkan pelajar.

    Kita tengok kembali perkembangan film di akhir tahun 80-an dimana Indonesia mengalami kelesuan di bidang film. Di tengah-tengah kelesuan industri film – ditambah dengan kemajuan teknologi yang membuat semakin murahnya untuk berkarya – muncullah para pembuat film indie. Mereka menapakkan diri sebagai anak-anak muda yang mempunyai daya kreatifitas yang tinggi dann semangat untuk berkarya. Dari semangat film indie inilah banyak karya anak bangsa Indonesia yang memenangkan ajang festival film di luar negeri.

    Atas kondisi inilah yang menjadi semangat Forum Dokumentasi Budaya Jawa Barat untuk terus turut memfasilitasi para penggiat film di jalur independent salah satunya dengan coba menggelar Bandung Video Musik Festival. Hal ini dilakukan karena sangat sedikit ruang ekpresi untuk para penggiat film indie. Adapun ruang-ruang yang ada belum cukup untuk menampung karya-karya para penggiat film.

    Bandung Video Musik Festival
    Bandung Video Musik Festival merupakan format lain kegiatan dari Festival Film Pendek Bandung yang merupakan acara rutin tahunan. Acara ini adalah kali ketiga diselenggarakan di Bandung. Forum Dokumentasi Budaya sebagai penggagas kegiatan menganggap bahwa festival ini adalah ruang pesta ekspresi dan kreatifitas para film makers.

    Berbeda dengan penyelenggaraan Festival Film Pendek sebelumnya dengan asumsi penyelenggaraannya sebagai ajang mempererat hubungan komunikasi para film makers dan membangun image yang dilaksanakan di satu tempat. Maka pada tahun ini akan dicoba pelaksanaan pemutarannya diperluas di berbagai tempat dengan mengajak peran serta komunitas-komunitas dan tempat-tempat yang selalu memutar film seperti Culture Centre Perancis, Common Room, Goete Institute, Cerahati, kampus, dan lain-lain. Dengan penyebaran pemutaran film diharapkan Festival Film Pendek Bandung ini menjadi sebuah Festival yang menjadi brand image dan dimiliki oleh masyarakat Kota Bandung.

    Pilihan kompetisi pada jenis video klip karena perkembangannya begitu pesat seiring dengan tumbuhnya dunia musik dan televisi swasta di Indonesia baik nasional maupun di daerah. Tema acara yang diangkat adalah “Metro spiritual dan hetero konseptual”, dengan melibatkan beragam partisipan mulai dari filmakers, dokumentator, kritikus, dan praktisi.

    Pelaksanaan Bandung Video Musik Festival dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahapan awal berupa Soft Lauching tangga 16-17 September 2006 dilaksanakan di Asia Afrika Culture Center (AACC) dan sekitar Kawasan Braga. Kegiatan pembuka ini akan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Bandung Art Festival. Soft Launching tersebut sekalian mengawali Pendaftaran Gelombang I 17-28 September 2006 dengan waktu penanyangan karya 1-28 Oktober 2006. selanjutnya Pendaftaran Gelombang II 16-28 Oktober 2006 dengan waktu penanyangan karya 1-28 November 2006. Tayangan Menuju Final, tanggal 15-20 Desember 2006. Hasil karya film akan ditayangan di IMTV setiap hari jam 15.00-16.00 WIB dan jam 19.00-20.00.

    Selain itu untuk lebih memfasilitasi para sineas muda serta mereka yang tertarik menjadi film maker, maka diadakan Workshop Video Maker. Acara ini akan dilaksanakan sekitar bulan Oktober 2006 dengan mendatangi Kampus dan Sekolah SMU yang ada di Bandung. Penanyangan hasil karya peserta workshop akan dilakukan pada bulan November. Acara Bandung Video Musik Festival akan ditutup dengan Malam Penganugrahan yakni pada tanggal 31 Desember 2006 di gedung Asia Afrika Culture Center (AACC).

    Maka kontens kali ini adalah, berupaya melahirkan eksplorasi lain yang berbasis pada metro spiritulitas itu, yang kemudian mewujud dalam gagasan estetik dari hetero konspetual. Segalanya menjadi mungkin ketika setiap manusia, khususon para videoklipmaker memang sebagai pemilik syah kebudayaan dunia selain itu juga pelaksanaan Bandung Video Musik Festival ini dapat turut serta mendorong pertumbuhan industri film negeri kita yang kembali menggeliat. Selain bisa mempererat hubungan individu dan komunitas film baik di dalam negeri maupun luar negeri, sebagai ajang tukar pengalaman, saling melihat peluang akan perkembangan dunia film Secara Global.

    Persyaratan Peserta:
    1. Peserta pembuat video klip adalah :
    a. Warga Negara Indonesia.
    b. Terbuka untuk umum perorangan/kelompok

    2. Penerimaan karya Video klip

    Pendaftaran Gelombang I
    Tanggal : 17-28 September 2006
    Tayangan : 1-28 Oktober 2006, di tayangankan langsung di IMTV setiap hari jam 15.00-16.00 WIB dan jam 19.00-20.00.

    Pendaftaran Gelombang II
    Tanggal : 16-28 Oktober 2006
    Tayangan : 1-28 November 2006, ditayangkan langsung di IMTV setiap hari jam 15.00-16.00 WIB dan jam 19.00-20.00.

    3. Pembutan video klip dibuat dengan standar video klip independent, bermutu, mengandung nilai spiritualitas Metropolitan dan dengan pendekatan konsep (isi) yang beragam (Hetero konseptual)

    4. Isi Video klip berdurasi minimum 3 menit maximum 5 menit, dicopy 5 buah.

    5. Sertakan data karya, seperti judul, lirik lagu, karya, ide, tema, teknis/proses pembuatan, crew, durasi, dan biografi pembuat karya dan atau kelompok musik yang disertakan. Data dibuat dalam bentuk CD/DVD serta hasil print out.

    6. Video klip yang disertakan adalah karya asli yang belum dipublikasikan atau diproduksi masal dan tidak sedang disertakan dalam kompetisi lain.

    7. Membuat print out cover lagu ukuran A3 sebanyak 2 lembar.

    8. Jika terjadi tuntutan dari pihak lain atas keaslian karya, akan menjadi tanggung jawab peserta bersangkutan.

    9. Para peserta bersedia dipanggil jika diperlukan.

    10. Panitia tidak diperkenankan mengikuti lomba.

    11. Karya dikirim ke Galerikita Jl. Marthadinata 209 Bandung Jawa Barat Telp. 022 70846182. Untuk Informasi : Tubagus Adhi (081573710910/02270421510), Pri IMTV (085220308030).

    12. Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 100.000,- dibayarkan melalui rekening Bank Mandiri an: Tubagus Adhi no rek. 131-00-0479771-0.

    13. Hadiah pemenang berupa trophy dari Gubernur Jawa Barat, trophy dari Kadisbudpar JABAR, trophy dari Forum Dokumentasi Budaya Jawa Barat dan Hadiah dari sponsor.

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel