Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • koesuma 10:45 am on July 29, 2006 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Komunitas Kreatif, Butuh Lebih Banyak Ruang 

    KOMUNITAS-komunitas kreatif yang berkembang dalam sepuluh terakhir ini, memberi warna baru dalam perkembangan Bandung sebagai satu kota. Bandung yang selama ini dikenal sebagai kota yang kreatif dalam melahirkan tren baru dalam gaya hidup, seperti tak pernah kehabisan ide dan gagasan kreatif.

    Munculnya ruang-ruang pertemuan dan kegiatan yang mengakomodasi berbagai macam pemikiran dan gagasan-gagasan kreatif, selama ini lebih banyak digagas secara mandiri oleh inisiatif individu atau kelompok.

    Bersamaan dengan institusi-institusi formal lain yang bergerak di lingkup seni budaya, kerberadaan ruang-ruang inisiatif dan komunitas-komunitas yang ada, memiliki kontribusi yang penting dalam perkembangan budaya kota. Namun fakta bahwa komunitas-komunitas kreatif dan ruang-ruang inisiatif, yang mampu bertahan sangat sedikit, menunjukkan bahwa dan keberlanjutan keberadaan ruang-ruang tersebut menjadi isu yang serius untuk ditanggapi.

    Berkaitan dengan hal ini, beberapa waktu lalu, Pusat Studi Urban Desain, Sekolah Arsitektur Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Departemen Arsitektur ITB dan Common Room Networks Foundation, mencoba mengidentifikasikan, persoalan-persoalan yang dihadapi oleh komunitas-komunitas kreatif dan ruang-ruang inisiatif itu melalui kegiatan gathering komunitas kreatif dan online conference dengan para pelaku komunitas di Bandung. Gathering dan online conference ini merupakan bagian dari kegiatan Artepolis yang bertujuan untuk menyoroti persoalan budaya kreatif dan pemaknaan ruang di Bandung.

    Berbagai komunitas yang bergerak di bidang fashion, musik, perbukuan, media, dan pengelola ruang yang selama ini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan di Bandung, berbagi pengalaman dan persoalan-persoalan yang dihadapi mereka selama ini.

    Tingginya nilai lahan
    IF Venue, salah satu ruang inisiatif yang memulai aktivitasnya pada bulan Agustus 2004, terpaksa menutup ruangnya karena idealisme pengelolanya, harus berhadapan dengan harga sewa ruang yang setiap tahun bertambah mahal. “Kita tutup karena nggak mampu bayar kontrak. Harga sewa rumah yang asalnya Rp 20 juta per tahun, naik jadi Rp 27 juta pertahun,” Jelas Muhamad Akbar, salah satu pengelola IF Venue. “Kita sempat bikin pertunjukan untuk cari dana, tapi karena persiapannya mepet dan sumber dayanya terbatas, kegiatan yang harusnya menghasilkan uang untuk sewa tempat malah nombok.”

    Pada awalnya, IF venue, didirikan untuk menjadi ruang pengembangan kreativitas anak muda di Bandung. Saat itu, para pendirinya mendapatkan sejumlah dana dari sebuah organisasi sosial yang mendukung realisasi berdirinya ruang inisiatif tersebut. Bantuan tersebut mereka anggap sebagai modal awal untuk aktivitas mereka.

    Sebelum ditutup, IF venue yang terletak di jalan Moch. Toha, dikenal oleh sebagian anak muda Bandung, sebagai ruang yang rutin menyelenggarkan kegiatan-kegiatan pameran, pertunjukan musik underground, diskusi dan pemutaran film. Untuk membiayai kegiatan mereka, salah satu ruangan, dijadikan studio musik untuk disewakan, juga ada toko baju dan coffe shop kecil, namun pemasukannya tidak dapat menutupi kebutuhan operasional mereka.

    Kebutuhan ruang-ruang di lokasi strategis untuk beraktifitas dan keterbatasan lahan yang tersedia, semakin membuat harga sewa ruang dan lahan menjadi semakin mahal. Tidak adanya pengaturan, tata guna lahan yang jelas oleh pengelola kota, harga sewa ditetapkan secara sepihak oleh para pemilik ruang.

    Jalan Trunojoyo, dulu sewanya cukup murah kalau mau buka usaha di situ, sekarang setiap tahun naik hampir Rp 15 juta. “Sekarang sewanya bisa sampai seratus juta rupiah per tahun. Dan itu bikin biaya operasional tambah mahal, pengaruhnya ke harga jual produk juga,” kata Dandhy pemilik 347 dan pengelola ruang Room No.1.

    Infrastruktur dan birokrasi
    “Di Bandung cuma sedikit tempat yang bisa dipakai untuk pertunjukan dan itu pun harga sewanya mahal, lagi pula sulit mencari tempat yang sesuai dengan jenis pertunjukannya,” keluhan serupa diungkapkan Wale, salah satu penggiat Komunitas Berandalan Bandung, yang pada bulan Juni lalu sempat menggelar konser, grup punk legendaris dari USA, The Exploited, di stadion Persib, Bandung.

    “Bandung butuh gedung yang bisa menampung audience sampai 10.000 orang, sementara tempat-tempat pertunjukan yang ada paling banyak hanya 2.000 sampai 5.000 orang. Sering kejadian penontonnya banyak dan gedungnya nggak muat,” lanjut Wale.

    Maka itu jangan heran, jika ruang-ruang seperti AACC, Auditorium CCF, bisa dipakai untuk segala pertunjukan musik. Di pertengahan 90 sampai akhir 90-an, Gelora Saparua, identik dengan pertunjukan musik punk, hard core. Namun saat ini, karena kondisi gedung yang sudah tidak layak, membuat komunitas punk, hardcore, kesulitan mencari ruang pertunjukan musik mereka. Sementara gedung pertunjukan seperti Sabuga, tak terjangkau bagi komunitas. Mengingat, seringkali penyelenggaraan kegiatan dilakukan dengan dana swadaya komunitas dan sponsor yang terbatas. Modal terbesar yang mereka miliki adalah semangat dan keinginan yang kuat untuk mengekspresikan aspirasi estetiknya.

    Belum lagi persoalan perizinan dan birokrasi dalam penyelenggaraan kegiatan. Helvi, pendiri Fast Foward Record yang beberapa waktu lalu sempat mengundang King of Convenience, grup musik asal Norwegia, berharap pemerintah kota dapat memberikan keringanan pajak dan visa kerja terhadap band-band yang akan tampil di Bandung. “Kayak 100 Rock Festival di Bangkok, Dinas Pariwisatanya yang dukung, lalu kerja sama dengan swasta, jadi banyak biaya yang bisa di tekan.”

    Disadari atau tidak oleh pengelola kota, kegiatan konser bertaraf internasional seperti ini, dapat mendukung kegiatan pariwisata Kota Bandung.

    Sementara, tidak semua orang memiliki akses terhadap ruang-ruang milik pemerintah kota dan menggunakannya sebagai community center. Jika dapat menggunakan fasilitas yang tersedia, seringkali tak sesuai dengan kebutuhan yang menunjang kegiatan.

    Tubagus Adhi, dari Forum Apresiasi Budaya atau lebih dikenal dengan nama LINKART, selama ini menjalankan aktivitasnya dengan memanfaatkan ruang yang ada di Kompleks Taman Budaya. “Kebetulan saat itu posisinya sebagai konsultan Taman Budaya. Cuma ga ada uangnya. Bagi saya nggak papa, dan saat itu saya menemukan ruang audio visual dan perpustakaan yang berantakan sekali. Akhirnya ya kita memanfaatkan itu.”

    Aktivitas dilakukan oleh LINKART, di antaranya pendokumentasian seni budaya dan program tur keliling kota, yang tujuannya untuk memperkenalkan sejarah Bandung pada kalangan muda. Namun, seperti halnya komunitas lain, untuk membiayai aktivitasnya, LINKART masih mengandalkan dana swadaya dari para pengurusnya.

    Persoalan Bersama
    Achmad D. Tardiyana, selaku fasilitator dan penanggung jawab kegiatan gathering, memandang persoalan ini lebih optimis. Menurutnya, salah satu kunci kegiatan kreatif itu adalah survival. Kendala-kendala itu justru mendorong mereka untuk bisa menemukan cara dalam mengatasi persoalannya. Kreativitas justru seringkali muncul dari keterbatasan-keterbatasan yang ada.

    Meski demikian, tetap saja peranan pengelola kota sangat diperlukan. Penataan ruang kota Bandung yang bisa mengakomodasi potensi kreatif warganya, sudah semestinya diakomodasi dan difasilitasi. Jika pengelola Kota melihat komunitas kreatif sebagai potensi kota yang membentuk identitas Bandung sebagai kota kreatif, sudah saatnya, apa yang menjadi persoalan komunitas ini, juga menjadi persoalan yang perlu dipikirkan dan diselesaikan bersama-sama.

    Tulisan ini dimuat di PR Kampus, 20 Juli 2006
    baca juga interview bersama Achmad D. Tardiyana

     
  • koesuma 10:40 am on July 29, 2006 Permalink | Reply  

    Charity Afternoon 

    Review from Charity Afternoon
    June 26th, 2006
    by Gustaff, review ini bisa dilihat juga di
    http://heterologia.multiply.com

    Hoy, buat para pengunjung dan band pendukung. Thx. udah maen di acara Charity Afternoon. Untuk ukuran kegiatan di Common Room, acara ini tergolong sukses. Apalagi setelah kita berhasil ngumpulin sejumlah uang untuk teman-teman yang menjadi korban gempa di kota Yogyakarta (gua belom tau pasti kita dapetnya berapa, laporan menyusul boss!). Rencananya nanti, uang hasil acara ini akan kita salurkan melalui teman2 studio biru (www.studiobiru.info).

    Pokoknya terimakasih banyak buat band pendukung: Anak2 KLABKLASSIK (Syarif dkk.), KLAB JAZZ (Niman dkk.), 4 A.M, Brother’s Beat, La Luna, The S.I.G.I.T, Jeruji, Jaeger Boy’s Transistor (Ni’ang dkk) dan Adi Gembel (Forgotten), yang bertindak sebagai MC. Selain itu terimakasih juga buat para pendukung acara yang lain dan para volunter yang ikut membantu lancarnya acara ini.

    Acaranya seru banget. Dibuka sama Syarif dkk. yang memainkan musik klasik. selanjutnya teman-teman dari Klab Jazz juga ikut unjuk gigi (4 A.M. & Brother’s Beat), maenin musik jazz dengan keterampilan memainkan alat musik yang ok. Pertunjukan dilanjutkan oleh La Luna yang berhasil menyulap suasana sore di Common Room jadi rada “waas”. Setelah itu, The S.I.G.I.T ambil bagian, minus pemain drum. Jadinya lagu rock garasi yang nyantai tapi garang.

    Jeruji membawakan beberapa karya lawas plus lagu “Do the Fight” yang sukses membuat para penonton terhibur. Jarang-jarang liat Jeruji memainkan musik mereka dengan instrumen akustik. Semua penonton menjadi saksi hidup sambil sesekali tertawa dan bertepuk tangan. Apalagi waktu mendengar lagu “Semua Akan Mati” yang diselingi dengan anthem ala Dedi Stanzah.

    Pure Saturday yang kebetulan juga jadi saksi hidup gempa Yogyakarta menyapa penonton dengan berbagi pengalaman ketika mereka mengalami gempa. Kita semua memang harus bersyukur kalau sampai sekarang masih bisa menghirup napas secara leluasa. Setelah membawakan beberapa lagu sebagai pemanasan, Iyo memanggil Manik (La Luna) untuk nyanyi bareng. Sumpah! Jadi tambah waas! Pertunjukan terakhir diisi oleh Jaeger Boy’s Transistor yang menhadirkan Hendy si manusia lampu. Dengan beat yang energik, Hendy mengimbangi performance Jaeger Boy’s dengan meledak-ledak seperti orang yang lagi kesurupan…Cageur euy!

    Salam,
    -Gustaff

    ps: Salut buat teman2 Yogyakarta yang mampu bertahan dan kembali bangkit setelah dilanda bencana gempa. Semoga arwah para korban diterima di sisi yang maha esa, dan mereka yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.

    Thanks to:
    1. Common Room Network Foundation
    2. studio biru
    3. 347/ EAT Boardrider & co
    4. Theodore Clothing Company
    5. Artis pendukung acara: Jeruji, Pure Saturday, La Luna, The SIGIT, 4 am Quartet, Jaeger Boys Transistor, Brothers’ Beat, Klab Klassik
    6. Charissa Delima, Muhammad Akbar, Heru Hikayat, Adi “Ghembels”
    7. Seluruh awak Common Room Network Foundation
    8. Sound System by David and the Gang
    9. Seluruh donatur yang telah menyumbang
    10. Tetangga-tetangga di jalan Kyai Gede Utama
    11. Polsek Coblong

     
  • koesuma 10:38 am on July 29, 2006 Permalink | Reply  

    Workshop & Screening Video After School 2006 

    Diskripsi Video After School
    Satu rangkaian aktivitas, melibatkan sekumpulan anak muda kreatif dengan skill dan wawasan yang bagus, mengerjakan sebuah proyek (workshop) dengan output produk kreatif, dalam bentuk audio-visual/multi-media – lebih spesifik lagi – videoklip

    Kali ini, Cerahati artwork akan kembali menggelar program VIDEO AFTER SCHOOL 2006, dan mengajak kepada berbagai pihak untuk ikut terlibat dan berpartisipasi dalam program workshop produksi videoklip

    Peserta workshop :
    10 kelompok video-grafer muda berbakat,
    yang diseleksi dan dicari. Mereka akan diajak terlibat dalam program ini, untuk mengerjakan videoklip dari 10 lagu karya 10 musisi terbaik Indonesia, seperti :
    Slank (in confirmation), Koil, Sova, Rock’n Roll Mafia, S.I.D, Naif (in confirmation), Club 80’s, Marcell, Samsons, /rif
    Note: Pilihan dan komposisi musisi dapat berubah sesuai kesepakatan

    Kegiatan Workshop

    • Pre Program
      Road Show Kampus & Sekolah
      Penyebaran promosi dan publikasi
      Pendaftaran & Penyaringan
    • Program
      Persiapan & pembentukan kelompok peserta
      Penyusunan Konsep (diskusi, brainstorming, presentasi, dll)
      Produksi video music
      Pasca produksi video music
    • Post Program
      Produksi Program TV & DVD Packaging
      Penayangan Program TV
      Road Show pemutaran VIDEO AFTER SCHOOL (post-event)

    Waktu Kegiatan Workshop
    Waktu : 7 Agustus – 16 September 2006
    Pukul : 10.00 – selesai setiap pertemuan
    Tempat : Makin Production
    Viky Sanipar Music Centre
    Kegiatan : 14-19 Agustus 2006 Pertemuan peserta workshop dengan artis label (brainstorming)

    22 Agustus – 2 September 2006 shooting videoklip (masing-masing kelompok 1 hari/1 videoklip dengan waktu yang telah ditentukan)

    Diskripsi Screening Video After School
    Screening Video After School yaitu pemutaran videoklip hasil dari peserta workshop video After School vol.1 yang telah berlangsung pada bulan maret 2006 lalu, di Kota Bandung. Kegiatan ini telah melibatkan 40 anak muda berbakat, dan menghasilkan videoklip dari 10 artis seperti : Netral, Seurieus, Ten2Five, Project Pop, The Upstairs, The Rain, REA, Dan Band, Nugie dan Seringai.

    Kegiatan screening ini sekaligus sebagai pembuka dari Video After School berikutnya, yang akan diadakan di Jakarta sekaligus sebagai tempat berlangsungnya kegiatan workshop.

    Kegiatan Screening
    Hari : Jumat
    Tanggal : 28 Juli 2006
    Pukul : 19.00- Selesai
    Tempat : Viky Sianipar Music Center
    Jl. Minangkabau Timur 43
    Jakarta Selatan

    Acara :
    1. Pemutaran Videoklip Workshop Video After School vol.1
    (Netral, Seurieus, Ten2Five, Project Pop, REA, The Upstairs, REA, The Rain, Dan Band, Nugie, Seringai)
    2. Pers Conference Video After School
    3. Pembukaan pendaftaran workshop Video After School 2006

    Keterangan lebih lanjut hubungi:
    Erline (0813 2201 2826)
    elineketjil@yahoo.com

    Cerahati Artwork
    Jl. Sukasenang III no. 4 Bandung
    ph/fax : 022-7230449

     
  • koesuma 8:06 am on July 9, 2006 Permalink | Reply  

    Agenda Kegiatan Common Room bln Juli 2006 

    AGENDA RUTIN

    Senin
    ++ Klab Baca Online, pk. 15.00 – 17.00
    Add di klabaca@yahoo.com
    ++ Klab Nulis, pk. 16.00 – 18.00

    Jumat
    ++ English Club, pk. 17.00 – 18.30

    Sabtu
    ++ Klab Origami “All about Kusudama”, pk. 14.00 – 16.00
    Biaya: Rp. 10.000/pertemuan
    ++ Klab Rajut: Kelas Knitting Dasar, pk. 11.00 – 12.30
    biaya: Rp. 100.000,-/4x pertemuan
    Kelas Crochet Dasar, pk. 14.00 – 15.30
    biaya: Rp. 100.000,-/4x pertemuan
    ++ Klab Nulis Pemula, pk. 16.00 – 18.00
    Biaya: Rp. 10.000,-/bulan

    Minggu
    ++ Klab Rajut: Kelas Knitting Lanjutan, pk. 13.00 – 14.30
    ++ Klab Jazz, pk.16.00 – 18.00
    2 Juli 2006: ULAS ALBUM. Album Perdana Aksan Syuman: “Aksan Syuman”
    9 Juli 2006: ULAS ALBUM: Mini Album Perdana Imam Pras Quartet: “Imam Pras Quartet”
    23 Juli 2006: Nonton DVD Video “Luluk Purwanto & Stage Bus ‘Mahabarata’”
    30 Juli 2006: Nonton DVD Video “Bobby McFerrin: Live in Montreal”
    ++ Klab Klassik, pk. 13.00 – 15.00
    9 Juli 2006: Diskusi Vivaldi
    23 Juli 2006: Live Performance oleh peserta yang lolos Audisi Classical Guitar Fiesta

    SPESIAL EVENTS

    Klab Rajut membuka kelas baru! Tempat terbatas!
    # Kelas Knitting Dasar
    Sabtu, pk. 11.00 – 12.30
    Biaya: Rp. 100.000,-/4 pertemuan (termasuk alat dan bahan)
    # Kelas Knitting Lanjutan
    Minggu, pk. 13.00 – 14.30
    Biaya: Rp. 100.000,-/4 pertemuan (termasuk alat dan bahan)
    # Kelas Crochet Dasar
    Sabtu, pk. 14.00 – 15.30
    Biaya: Rp. 100.000,-/4 pertemuan (termasuk alat dan bahan)
    # Kelas Knitting Paket Liburan
    Sabtu dan Minggu
    Biaya: Rp. 150.000,-/8 pertemuan (termasuk alat dan bahan)

    Workshop Metodologi Penelitian Kualitatif
    11 Juli 2006 – 11 Agustus 2006

    Jadwal:
    Riset Kualitatif: Sebuah Pengantar
    Selasa, 11 Juli 2006 pk. 16.00 – 19.00
    Tak Sekadar Berpikir Non Eksak: Tradisi-tradisi Teoritis Dalam Riset Kualitatif
    Rabu, 12 Juli 2006, Pk. 16.00 – 19.00
    Ragam Metode Kualitatif
    Kamis, 13 Juli 2006, Pk. 16.00 – 19.00
    Teknik-Teknik Pengumpulan Data
    Jumat, 14 Juli 2006, Pk. 16.00 –19.00
    Teknik-Teknik Analisis Data
    Selasa, 18 Juli 2006, Pk. 16.00 –19.00
    Format Proposal, Format Laporan & Tugas
    Rabu, 19 Juli 2006, Pk. 16.00 –19.00
    Konsultasi
    Kamis, 20 Juli 2006, Pk. 16.00 –19.00
    Presentasi
    Rabu & Kamis, 9 & 10 Agustus 2006, Pk. 16.00 –19.00
    Pemutaran Film & Diskusi, Penyerahan sertifikat
    Jumat, 11 Agustus pk.15.00 – 18.00

    Klab Nonton Spesial: “Kami, Jogja Kita”
    Kamis, 20 Juli 2006, pk. 15.00 – 17.00
    Kerjasama Konfiden dan Klab Nonton Common Room

    Buletin KlabKlassik LEGATO
    Terbit tiap bulan
    Dapatkan di Toko Buku Kecil. Gratis!

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel