Liputan Workshop Jurnalistik di Belia Pikiran Rakyat

http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/belia/201205/08aksi.htm


Workshop Jurnalistik Common Room-HMJ
Langkah Awal Jadi Jurnalis!

Suka merhatiin enggak, novel-novel yang dipajang di toko buku waktu Belia jalan-jalan ke sana? Selain banyak banget buku yang ditulis para penulis senior, saat ini juga banyak novel bikinan remaja seumuran Belia yang dipajang di sana. Lengkap banget, deh, dari novel islami sampai teenlit, semua tersedia di sana.

Makanya, bukan hal yang aneh, kalo kita intip biografi sang penulis, ternyata dia masih sekolah di SMP atau SMA. Bahkan di antaranya, ada juga, lho, yang dijadiin film atau sinetron!
Redaksi belia juga mengalami hal yang sama, tiap harinya nerima banyak banget tulisan yang dikirim sama Belia, lho. Sampe suka pusying mau milih yang mana, hehehe…. At least, hal itu nunjukin kalo sekarang ini di Indonesia, minat menulis di kalangan remaja meningkat pesat dibanding sebelumnya. Bukan enggak mungkin, lho, dari sekadar iseng coba-coba ngirim artikel, nantinya Belia malah jadi penulis terkenal. Contohnya, Fira Basuki. Penulis novel ini mengawali karier menulisnya dengan iseng-iseng mengirim cerpen ke majalah. Taunya, cerpennya dimuat, sampe akhirnya dia ketagihan buat nulis dan nulis terus sampai sekarang.

Biar minat menulis ini enggak mati gitu aja, makanya sejak awal mesti dipupuk biar lebih berkembang lagi. Enggak heran, dong, kalo sekarang banyak banget diadain pelatihan atau kelab menulis di Bandung. Salah satunya, digelar Common Room dan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ) Fikom Unpad lewat gelaran Workshop Jurnalistik. Workshop yang digelar dari tanggal 17-19 Desember 2005 ini khusus diadain buat anak SMA.

Di sini, setiap peserta dapet sharing seluk-beluk menulis ala jurnalis, kayak straight news, artikel, dan feature. Namanya juga workshop, tentu lengkap dengan praktika, yang langsung dilakuin saat itu juga. Pembicara yang diundang pun adalah para praktisi yang emang udah berpengalaman di dunia jurnalistik dan berasal dari media cetak ternama di Indonesia.
Waktu belia nyambangin venue workshop yang diadain di garasi Common Room, Sabtu (17/12), materi yang lagi digelar saat itu adalah soal penulisan artikel. Ngomong-ngomong, pembicaranya Roby Nugraha–salah satu reporter belia–hehehe…. Di sini peserta dapet share secara lengkap soal artikel. Dari mulai apa itu artikel, bentuk artikel, dan tentunya bagaimana menulis artikel yang menarik.

Setelah materi beres diobrolin, peserta dikasih waktu selama sepuluh menit buat nulis artikel soal majalah dinding. Tiga artikel terbaik dipilih untuk dikomentari dan dibahas. Mungkin karena baru hari pertama, peserta banyak yang masih tegang dan malu-malu, hehehe….
Sesi selanjutnya, ngebahas soal proses kreatif menulis dan dasar-dasar penulisan oleh Tarlen Handayani–empunya Tobucil. Ngaku, deh, di antara Belia semua pasti sering banget stuck pas udah mau mulai nulis? Padahal di otak, udah banyak banget yang pengen ditulis. Iya, kan?
Nah, di sini peserta dikasih tahu soal bagaimana menuangkan ide sampai terbentuk menjadi tulisan, langkah-langkah yang bisa dilakuin kalo udah mulai stuck nulis juga dibeberin secara lengkap.

Setelah pembicara ngasih semua materi, sekarang giliran peserta unjuk gigi dengan bikin tulisan mengenai hobi mereka. Dan nantinya beberapa dari mereka bakal ditunjuk buat bacain langsung tulisannya di depan peserta lain. Ternyata, cara ini ampuh banget buat bikin suasana lebih santai. Terbukti, pas salah satu peserta bacain tulisannya mengenai hobinya naik angkot, semua peserta langsung ketawa-ketiwi. Dari sini aja, kelihatan banget kalo ide yang dimiliki oleh anak SMA emang orisinal dan enggak bisa diremehin gitu aja.

“Tulisan mereka cukup asyik. Dalam artian mereka punya dasar pengalaman menulis yang bagus,” kata Tarlen, pembicara sekaligus koordinator Workshop Jurnalistik ini.
Materi terakhir untuk hari itu adalah mengenai straight news di media massa cetak. Sekedar info, straight news adalah berita langsung yang banyak Belia temuin di koran-koran. Pembicara yang didatengin adalah wartawan tulis Pikiran Rakyat, Zaky Yamani.

Di sini peserta dikasih tau pentingnya unsur who, what, when, why, where, dan how (5W+1H) dalam berita, susunan berita dan bahasa berita. Walaupun workshop berakhir di sore hari, tapi ini enggak bikin semangat peserta pada turun, lho! “Justru seneng banget ikutan workshop ini. Kita jadi tahu banyak soal dunia jurnalistik,” kata Lury, Belia kelas 2 SMAN 12.

Hari kedua, peserta diberi materi mengenai feature. Yang ngebedain workshop hari ini dengan hari sebelumnya adalah, peserta diharuskan turun langsung mencari berita di sekitar Dipati Ukur, Gasibu dan Tobucil. Sebelumnya, seluruh peserta workshop dibagi menjadi empat desk yaitu sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.

Masing-masing desk beranggotakan empat orang peserta dan diberi waktu dua jam untuk mencari berita yang nantinya bakal dibikin straight news dan feature. Hmm… seru juga, tuh. Nah, kira-kira gimana, ya, petualangan masing-masing desk waktu cari berita?
“Susah banget cari pemulung yang mau diwawancara. Malahan saya sempet diusir, terus sekalinya dapet, eh, saya malah disangka dari ‘Uang Kaget’, hehehe… si bapaknya sampe nangis-nangis,” kata Franky, Belia kelas 2 SMAN 6. Waduh! Ada-ada aja, ya?

Sesampainya di Common Room, selama satu jam semua desk langsung bikin tulisan sesuai jenis berita masing-masing. Di sini dibahas abis-abisan mengenai feature media cetak. Pemberian materi pun lebih mirip dengan diskusi, tapi itu semua justru bikin semua peserta lebih mengerti gimana caranya bikin feature yang menarik. Malahan peserta bebas mengajukan pendapat dan kritik, pas peserta lain bacain feature dan straight news yang mereka bikin.

Gara-gara turun langsung ke lapangan ini, semua peserta pada enggak sabar buat sekolah lagi dan bagi-bagi ilmu sama teman-temannya soal ilmu yang mereka dapetin dari sini. “Kalo dulu ngisi mading cuma browsing dari internet, sekarang kita mau beneran cari berita. Biar bisa nambah artikel dan madingnya tambah keren,” jelas Pradita, Belia kelas 2 SMAN 5.
Nantinya, semua tulisan yang dibuat oleh peserta bakalan dipajang di website Common Room, lho. “Daripada nanti tulisan yang mereka bikin kebuang gitu aja, mendingan dipublish di internet. Justru lewat internet, semua orang di manapun mereka berada, pasti bisa baca tulisan mereka. Salah satu caranya adalah lewat blog,” jelas Tarlen lagi. Makanya, di hari terakhir, peserta juga diberi materi mengenai blog alias website pribadi di internet. Penasaran pengen tau tulisan-tulisan hasil workshop ini? Klik aja www.commonroom.info.***

Astrid
citospace@yahoo.com

foto-foto workshop

Leave a Reply