Posts Mentioning RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • koesuma 10:30 am on March 29, 2005 Permalink | Reply  

    Class Of 95 

    Class of ‘95 – Local Youth Culture Exhibition
    Common Room, 12 – 27 Maret 2005

    Perkembangan komunitas anak muda di Indonesia, terutama di beberapa kota besar semisal Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, sampai saat ini selalu menunjukan pola pertumbuhan yang menarik. Dari mulai generasi Ngak-Ngik-Ngok (1960), Aktuil (1970), Lupus dan Catatan si Boy (1980), sampai pada kemunculan subkultur underground yang sempat mewarnai kehidupan anak muda Indonesia di era 1990-an, terutama di beberapa kota semisal Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, sampai Makasar.
    Berbagai macam struktur kode dan bentuk ekspresi yang spesifik ikut muncul dan mempengaruhi perkembangan anak muda di Indonesia dari waktu ke waktu. Terutama ditunjang oleh keberadaan industri musik, film, media massa dan teknologi informasi, perkembangan ini juga mendapatkan pengaruh yang kuat dari barat (Eropa & Amerika). Dalam hal ini, berbagai macam pola imitasi dan apropriasi budaya (barat) dapat kita lihat kemunculannya secara mudah melalui berbagai materi dokumentasi, arsip, artefak, sampai pada memorabilia anak muda dari berbagai belahan waktu yang spesifik.
    Sebagai sebuah judul pameran, “Class of ‘95” sengaja diambil untuk menandai perkembangan segelintir komunitas anak muda di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya pada kurun waktu tertentu. Selain itu, pameran ini juga akan mencermati kemunculan tanda-tanda dan bentuk ekspresi yang sempat muncul bersama kehadiran mereka sejak sekitar tahun 1995 sampai saat ini (2005). Melalui medium yang beragam, pameran ini akan menampilkan berbagai materi dokumentasi, artefak, dan bermacam memorabilia dari kurun waktu 10 tahun terakhir, terutama yang berasal dari para penggemar attitude dan spirit indipop. Sebuah istilah yang digunakan untuk menandai patahan (rupture) dari kultur musik pop mainstream yang berkembang pada tahun 1986-an di daratan Eropa, yang diwakili oleh beberapa band seperti Joy Division, New Order, Depeche Mode, Duran-Duran, dll.
    Pameran ini akan menampilkan berbagai materi dokumentasi yang merekam aktifitas anak muda era 1995-an di beberapa kota semisal Jakarta, Bandung, Yogyakarta & Surabaya. Adapun beberapa materi yang akan ditampilkan diantaranya adalah foto, flyer, poster, video (video klip & live concert), cover kaset, kliping majalah/koran, memorabilia, dll.
    Pembukaan Pameran Class Of 95 ini akan diadakan hari Sabtu, 12 Maret 2005 di Common Room Jalan Kyai Gede Utama 8 Bandung mulai pk. 17.00. Pembukaan ini juga akan menampilka pertunjukan musik akustik yang akan dimainkan oleh beberapa band yang berasal dari Bandung & Jakarta. Diantaranya adalah Ballads Of The Cliché, Olive Tree, Cherry Bombshell, Homogenic, Everybody Love Irene, White Shoes And The Couple Company, Zeke and The Popo, Batman and poptastic. Selain itu ada music gathering, yang akan menampilkan beberapa DJ yang secara khusus akan memutarkan lagu-lagu yang populer di kalangan komunitas anak muda penggemar musik indipop pada kurun waktu 1995 s/d sekarang.

     
  • koesuma 10:30 am on March 29, 2005 Permalink | Reply  

    Diskusi Da Vinci Code – Dan Brown 

    Buku yang penuh dengan kontroversi ini memang belum terasa gaungnya di Indonesia. Kebanyakan hanya tahu jika buku ini memang bagus. Memukau nalar dan mengguncang iman. sebuah jargon yang dipasang di sampul buku ini jelas membuat kita penasaran apa sebenarnya yang Dan Brown tulis.
    Tidak sedikit umat Kristen di dunia ini meraa tercengang dengan ‘fakta-fakta’ yang ditulis oleh Brown dalam Da Vinci Code. Entah itu cerita ternyata Yesus menikahi Maria Magdalena dan bahkan memiliki keturunan atau cerita tentang biarawan sion, Knights of Templar dan lain lain. Banyak bagian dari buku ini membuat tercengang orang yang membacanya tetapi ada yang menganggap hal ini biasa saja..hanya sebuah buku, hanya sebuah cerita.
    Terlepas semua itu, diskusi buku Da Vinci Code yang diadakan Minggu sore kemaren (20/3) membuka sudut pandang baru tentang buku ini. Ada beberapa yang tertarik tentang buku ini karena memang “pengen” tahu tentang kristen itu sendiri, ada yang membaca buku ini karena disuruh temannya, bahkan ada yang membaca buku ini hanya karena tebal.
    Tidak sulit untuk mengakui jika anda berpendapat cerita dalam buku ini sangat mengalir dan enak dibaca. Bahkan seperti kisah petualangan mencari sebuah misteri, anda selalu ingin tahu dan ingin cepat selesai membacanya. Belum lagi di dalam buku ini begitu banyak trivia-trivia yang mungkin tidak pernah anda tahu atau peduli sebelumnya. Katakan saja tentang deret fibonacci, kita jadi tahu dasar dari alam ini adalah geometri. Its all about geometry!
    Di sini pun anda bisa mengetahui bahwa pengetahuan yang diturunkan dari nenek moyang kita, dari sejak dulu kala selalu menggunakan simbol. Betapa simbol sangat memenuhi kehidupan kita. Ini tidak terlepas dari kebudayaan mesir kuno yang menggunakan hieroglyph sebagai tulisan pertama.
    Dan Brown mungkin bisa jadi orang yang memang beruntung, dimana ia mengetahui begitu banyak trivia dan dengan kemampuannya, ia bisa menjalinnya semua ke dalam sebuah cerita yang menarik untuk dibaca dan dinikmati.
    Jika memang banyak pihak merasa “terganggu” dengan buku ini, tidakkah kita tidak bisa melihat bahwa ini hanya sebuah other perspective about one thing.. dan itu terserah si penulis ingin menyampaikan apa kepada pembaca..
    I disapprove of what you say, but I will defend to death your right to say it -voltaire-

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel